Senin, 14 Januari 2013

Ibunya Jodohku

Teruntuk,
Ibunya jodohku.

Assalamualaikum, Bu. Aku tulis ini ketika umurku jelang 19 tahun. Ternyata pagi juga yang mengidekan sebuah surat untukmu. Mungkin nanti, ketika saatnya kita bertemu, aku akan tunjukkan blogku dan silakan engkau baca surat ini.

Ini lucu bagiku. Padahal aku belum mau menikah. Masih mahasiswa semester satu. Meskipun tak menutup kemungkinan bagi siapapun untuk menikah di umur sepertiku. Tapi apa daya? Ideku memilihmu. Tentu kita sama-sama menyadari kita belum saling kenal sampai nanti waktunya tiba. Jadi, bagaimana tingkah anakmu selama ini, Bu? Persiskah denganku? Karena yang aku dengar adalah apa yang aku beri, itulah yang aku dapat. Jika aku memberikan cinta kepada orang tuaku, apakah anakmu pun begitu? Semoga kebaikan selalu mengikuti kita semua, Bu.

Bu, jika sebelum anakmu meminangku dan engkau tau bahwa aku suka bangun siang, apakah engkau akan mengizinkan anakmu datang padaku? Jika porsi makanku melebihi porsi makan normal seorang wanita, apakah kau akan tetap membiarkan anakmu hidup bersamaku? Jujur saja, Bu. Tak ada yang lebih pahit ketimbang kejujuran yang terus dipendam.

Siapapun dan dimanapun engkau, Ibu, plis jangan menyesal ketika Tuhan memilihkanku sebagai pendamping anakmu. Ibuku pun pasti tak pernah menyesal jika ternyata jodohku adalah anakmu. Biar semua pertanyaan ini dijawab oleh waktu. Semoga engkau sehat selalu. Sampai kita bertemu dan kupersilakan engkau membaca blogku.

Salam hangat,
Jodoh anakmu


*Hari ke-1 #30harimenulissuratcinta 2013

Jumat, 07 Desember 2012

Lupa

Setiap malam
Kamu selalu pukpuk tumpukan rindu
Kamu selimuti agar tak berkerut kedinginan
Kamu peluki hinggal bulan enggan melihat
Esoknya
Tumpukan rindu diam-diam menyelinap kabur
Mereka keluar dari dekapan hangat dadamu
Merayap lewat kolong kasur
Dari beranda
Matahari terbit tinggi
Di sana ada kuning
Dan tumpukan rindu merasa
Inilah kedamaian yang hening


19.15
07122012

Rabu, 21 November 2012

Ini Mimpi

Waktu itu, cita-cita saya adalah dokter. Dua detik kemudian saya ingin jadi polisi. Esok harinya ingin jadi astronot. Dua tahun kemudian ingin jadi sutradara. Tapi apa? Dua belas tahun kemudian saya hanya jadi pengamen. Di lampu merah, kereta api, bis kota, bahkan mengamen untuk diri sendiri. Mimpi saya saat kecil terperangkap di antara petikan senar dan jari saya. Paru-paru saya teracuni asap rokok dan mungkin sudah mulai berkerak. Padahal ini pinjaman Tuhan. Apa daya saya hanya bisa merusak.

Saya pikir kantor ber-AC adalah rumah kedua saya, Toyota Fortuner  adalah kendaraan saya dan sekretaris cantik nan seksi adalah makanan sehari-hari saya. Tapi apa? Sepertinya saya terlalu banyak tidur sampai lupa bahwa yang saya tiduri hanyalah tikar, dan bukan kasur. Saya lupa bahwa ada harga yang harus dibayar mahal bahkan untuk beberapa impian kecil.

Saya diam. Terpaku. Ah saya lelah bermain lego melulu. Dunia lego terlalu sempit. Tapi takdirnya Tuhan itu luas tak terhimpit. Saya kembali ke dunia konkret. Dan mulai membuat daftar mimpi baru yang lebih rumit. Ini kertas saya, dan bukan punya kamu. Ini papan ular tangga saya, dan kamu hanyalah dadu.

21112012
18.52

Jumat, 09 November 2012

Sajak Mencuci Piring

Piring kotornya menumpuk. Sudah dua bulan tak ada yang mencuci. Keluarga ini kehabisan uang untuk hidup. Lantaran terlalu sering membeli piring. Sang suami dipecat dari kantor. Setiap harinya ia membawa piring di pantry kantor ke rumah. Juga gelas, sendok serta garpu. Sang istri dikucilkan tetangga. Meminjam piring tapi tak ada satupun yang dikembalikan. Tetangga geram. Kelak makan menggunakan apa keluarga mereka.

Suami-istri ini luntang-lantung di rumah sendiri. Perut lapar. Dua hari tak makan. Sekarang banyak lalat yang hinggap di piring kotor. Dapur mereka sangat menjijikan. Lantainya yang semula putih telah berubah jadi kekuningan. Tempat mencuci piringnya bagaikan Bantar Gebang. Sang istri berdoa,  Tuhan, tolong turunkan malaikat yang tangannya gesit mendandani semua piring ini!

Seminggu kemudian, mereka hampir mati. Hanya oksigen yang masuk ke dalam paru. Lambung mulai mengkerut. Tak lagi membentuk perut. Tak ada tetangga yang membantu. Tak mau merugi lagi karena kehilangan piring, sendok dan garpu. Yang mereka lakukan hanya terus berdoa.

Sepi. Hening. Bau. Mereka berasumsi akan mati dua detik lagi. Napas mereka satu-satu. Mata tak lagi menangkap sedikitpun cahaya. Mereka berpegangan. Berharap bisa mati dalam keadaan lebih terhormat. Tapi apa daya. Piring kotor di dapur seakan menghantui. Ingin melumat habis mereka. Ah, tunggu! Mereka merasakan ada seseorang yang datang. Itu! Di pojok ruangan. Seorang perempuan dengan gaun putih sampai mata kaki. Rambutnya hitam legam dikucir kuda. Jemarinya lentik dengan kuku yang seakan sedang duduk manis. Cantik. Sangat cantik. Tuhan, apakah ini yang kami pinta sejak dulu? Seorang malaikat yang kelak akan mencucikan semua piring kotor di dapur? Amboi! Tapi ini bidadari. Ya kan, Tuhan? Kau anugerahi kami bidadari? Teriak sang suami dalam hati. Sang istri berusaha memeluk suami. Mereka terharu. Mereka yakin dua detik lagi akan makan dengan piring yang bersih.

Sang bidadari berjalan anggun menuju dapur. Tak ada sedikitpun raut kejijikan dari wajahnya. Tetap tersenyum. Perlahan menuangkan cairan pencuci piring. Mengambil spons dan dengan lihainya memoles semua piring kotor. Voila! Dua detik kemudian semuanya sudah bersih. Cit cit cit! Begitu bunyi permukaan piringnya. Ditengok keadaan sang suami dan istri. Bidadari tersentak. Belum sempat makan enak, dengan piring yang bersih, mereka telah dipanggil Tuhan. Bidadari menangis sejadi-jadinya. Apa gunanya ia bersihkan semua piring jika mereka akhirnya mati juga. Dengan sekuat tenaga, bidadari kuburkan sepasang kekasih ini dalam satu lubang di halaman belakang. Tak lupa semua piring yang berdecit dimasukkan ke dalamnya. Lantas bidadari pergi. Bersama sebuah piring dengan noda darah di permukaannya. Aku mengambil sedikit darah mereka sebagai kenang-kenangan, ujarnya.



19.00
09112012

Rabu, 26 September 2012

Katamu, Hidup Ini Penuh Perjuangan


Katamu, hidup ini penuh perjuangan. Makanya kau memperjuangkan mimpi-mimpi ibumu, di samping mimpi-mimpi yang sudah kau simpan. Makanya kau memperjuangkan kerja keras ayahmu. Yang darinyalah tulang-tulangmu bisa kuat dan berlemak.

Katamu, cinta memang seharusnya diperjuangkan. Tak banyak orang yang mampu bertahan demi cinta. Tapi kau yakin akan bisa. Lagi-lagi kau menutup mata. Cinta tak selalu berpihak. Bahkan kau merasakan sendiri hati yang sesak. Kau hanya belum siap akan kenyataan yang bertolak belakang. Lanjutkan saja berjuang.

Katamu, menangis pun butuh perjuangan. Semata-mata agar air mata tak jadi sia-sia dan tak lebih dari bulir belaka. Tapi apa daya, kita hanya manusia. Tak kuat maka menangis. Kalah maka menangis. Kau hanya perlu sesekali melihat ke dalam hatimu. Ada sesuatu yang lemah di sana. Yang mengeluarkan air mata begitu saja. Tanpa berjuang setitik pun. Menangis ya menangis saja.

Lalu kataku, kau mau memperjuangkan yang mana? Sejatinya, sebelum kiamat hukum alam akan tetap ada. Jadi, apakah yang kau perjuangkan akan memperjuangkan dirimu juga?

26092012

Cepat

Matahari berjanji, akan hadir esok lagi
Cepat bangun, Sayang
Tak seharusnya kau masih di sini
Di tempat yang sudah kau tinggali sejak dini
Sejak aku merasakan sakit hati pertama kali

Kau harus segera bergegas
Cepat mandi dan pergilah ke alam bebas
Ke tempat yang lebih lapang daripada milikku
Di sana, kau tak perlu kerja keras
Di sana, rindu akan menggerus mengeras

Kenapa kau masih tak beranjak?
Cepat, Sayang
Sudah aku siapkan tiket-tiket perjalanan yang sekiranya kau perlukan
Tak ada yang mesti ditakutkan perihal jarak
Aku mencintaimu selama jantung masih berdetak
Terkadang, kita hanya butuh untuk menjadi bijak

Aku bilang cepat, Sayang

26092012

Jumat, 21 September 2012

Kisah Lelaki Penikmat Mimpi


Seorang lelaki terbangun dengan mimpi yang masih melekat erat di memorinya
Ia coba deskripsikan mimpinya, tapi tak berhasil
Ia coba tidur kembali, tapi terasa nihil
Tetiba mimpi itu hilang begitu saja
Lantas ia pergi mandi dengan harapan hari ini tak ada mimpi yang memaksa jadi realita

Seorang lelaki terjaga hingga subuh menggemakan diri
Ia pusing, suntuk, kusut dengan hidup yang memenjarakannya
Dengan kesombongan selapang dada, ia salahkan Tuhan yang telah membuat skenario hidup sedemikian rupa
Dirasuki kebodohan, lelaki ini memaksa masuk ke dalam mimpinya
Ingin hidup bebas tanpa norma
Ingin tidur pulas tanpa insomnia

Seorang lelaki terkantuk-kantuk di bis kota
Suara manusia kelaparan tak lagi di dengarnya
Dalam mimpi, ia sedang bersama wanita
Cantik, rambut panjang, dengan pipi merona
Diajaknya wanita itu ke tepian lembah
Dipeluknya dengan hangat tanpa banyak resah
Dua detik kemudian lelaki ini terbangun dari tidur singkatnya
Tiga detik berikutnya mengingat bahwa kekasihnya berbeda dunia

Seorang lelaki berbaring sepanjang hari
Sepucuk surat wasiat selesai ditulisnya tiga hari yang lalu
Sekarang ia menunggu, kapan malaikat maut datang menjemput
Sesekali ia tertidur
Sesekali pun ia bermimpi
Rumah seperti apa yang disediakan Tuhan
Bidadari seelok apa yang akan terpampang
Ia begitu tenang
Sampai akhirnya kakinya mulai menghangat
Ruhnya tengah diambil malaikat
Tanpa cekat, lelaki ini pergi dengan begitu khidmat

Kesemuanya, aku sebut sebagai lelaki penikmat mimpi

03.48
21092012

Rabu, 04 Juli 2012

Hujan Sebelah Mana yang Menyakitimu

Senja ini, seperti biasa, kita nikmati bersama. Kamu dengan secangkir kopi dan aku hanya segelas air putih. Di tempat yang tak lagi asing bagi kita. Di tempat yang memang selalu ada. Di pikiran masing-masing. Meskipun tak bertatap muka, aku tahu kau memang sedang menyesap kopimu. Perlahan tapi pasti. Layaknya kau menghadapi hidup ini.

Kamu "Terkadang hujan menyakitiku."

Aku "Apa maksudmu? Hujan hanyalah air yang turun dari langit. Bukan jarum. Terlebih lagi batu."

Kamu "Bukan itu maksudku. Terkadang hujan menarik paksa kenangan yang tak ingin kuingat."

Aku "Ah aku paham sekali. Kau boleh saja melupakan masa lalumu. Tapi jangan lupa ambil pelajaran darinya. Hidup ini penuh lubang, Sayang. Tak sepatutnya kamu, atau aku, atau siapapun itu, terjatuh pada lubang yang sama."

Kamu "Terkadang, hujan juga membuatku samar-samar menangis. Padahal aku lelaki dan terlihat cengeng sekali jika menangis karena masa lalu."

Aku "Ketika ibumu melahirkanmu, apakah ia tidak menangis? Bagaimana dengan ayahmu? Dia bahagia. Tetapi menangis jua. Padahal kau berani bersumpah bahwa ayahmu adalah lelaki paling kuat."

Kamu "Mereka menangis bahagia, Sayang. Sementara aku? Aku menangis lantaran merasa tersakiti. Bahkan karena masa laluku sendiri."

Aku "Tuhan telah menciptakan semuanya seseimbang mungkin. Ada aku, ada kamu. Lelaki dan perempuan. Luka dan obatnya. Sedih maupun senang. Tuhan tak menakar seberapa banyak kau boleh menangisi dirimu, atau orang lain. Toh jika sedang berdoa kau menangis juga, kan? Apakah kau berdoa saat senang saja? Kurasa tidak. Kau lelaki yang baik, Sayang. Tentulah ada rencana Tuhan dibalik masa lalumu itu.

Kau hanya diam. Sampai kau menghilang dari pikiranku. Bahkan aku tak percaya bahwa percakapan barusan sungguh-sungguh tak nyata. Kembali kuteguk air putihku. Selamat menikmati kopimu.


19.13
04072012

Minggu, 01 Juli 2012

Kupinang Engkau dengan Nagaku

Aku berlaga di depanmu layaknya ksatria. Bersama naga, aku terbang melintasi cakrawala demi membuktikan sesuatu. Aku mencintaimu, perempuanku.

Sering kita pergi bersama. Aku, kamu, nagaku. Maaf, Sayang. Kendaraan berhargaku saat ini hanya sebatas seekor naga. Mungkin nanti, ketika kita hidup bersama, kubelikan engkau sebuah kereta kuda. Jika perlu, aku yang akan menariknya. Membawamu kemanapun kau suka.

Aku tak ingin terlalu lama mengulur waktu. Takut-takut ada yang melukaimu. Berbekal seekor naga, kudatangi segera romomu. Meski ragu, aku katakan bahwa aku mencintai putrinya. Kamu. Jadilah, kupinang engkau dengan nagaku.


18.32
01072012