Minggu, 27 Januari 2013

Kalian

Hai, guys. Apa kabar? Hampir sebulan kita gak ketemu, men! Kangen gue gak? :| Kalian gak perlu tau perihal #30HariMenulisSuratCinta. Kalian cuma perlu tau bahwa gue tulis surat ini. Untuk kalian. Iya. Gak tau kenapa tetiba pengen aja. Siapa tau kalian juga emang lagi kangen.

Gimana liburannya? Yang di Bogor, Batam, Depok, Jakarta, Bekasi, Medan, Lampung, Riau, Palembang, Bandung? Asik banget pasti setelah lama gak ketemu sama keluarga, pacar, sahabat. Gue inget, waktu kita adain acara di rumah Mbak Iyas. Pas malem-malem kalian mau pulang, sedih gue rasa –yang bilang gue lebay langsung tunjuk tangan!- Tapi itu yang gue rasain. Percikan aja kali ya. Satu semester udah bareng-bareng terus. Tiap hari ketemu dari pagi sampe sore. Bahkan kadang sampe malem. Ngerjain UTS dan UAS Bahasa Arab pun bareng-bareng. How sweet. Meskipun kita tau itu salah. Apalah daya hahaha.

Btw, nilai Statistika gue C. No problem. Udah feeling. Pasti nyusruk deh Statistika gue. Selamat buat kalian yang dapet nilai indah. Dan semangat buat yang dapet kurang indah. Ini baru awal. Bisa diperbaiki. Sejatinya Tuhan emang pengen liat kita untuk belajar lebih keras lagi. Sebelum terlambat.

Oh iya, gue seneng kalo liat kalian rame di Twitter. Berasa lagi di kelas. Tapi di Twitter kita bisa lebih bebas. Dari situ gue yakin, kita terlahir sebagai makhluk kreatif. Iyalah, Tuhannya aja MahaKreatif. Eh, Adam-Febi apa kabar ya? Masih pacaran kan? Heuheuheu. Di kelas biasanya kita ngapain ya? Aha! Di kelas itu pertama kali gue nonton Wedding Dress! Nangis! Nangis banget malah hahaha. Aha! PES, men, PES!!! Gue main PES juga di kelas ini. Oh iya, inget gak sih waktu acara Psychoclassmeet? Drama! Belakangan gue baru tau kenapa drama kita gak menang. Menurut gue, alur cerita kita terlalu bertele-tele dan tidak to the point. Cuma Karena kita seneng aja, makanya gak ngerasa. Bego emang. Tapi lucu.

Sekarang ini kita lagi ketar-ketir nungguin nilai Sosio yang tak kunjung muncul di AIS. Kemaren-kemaren ribet masalah validasi bayaran semester, prosedur isi KRS, dan naik turunnya IP. Percaya deh. Beberapa bulan ke depan kita akan ketawa-ketawa ketika inget kebegoan kita sekarang. Padahal semuanya gampang. Tapi kita mikirnya kejauhan.

Yakin gak kita bakal lulus bareng-bareng dalam empat tahun? Yakin lah! Meskipun gak ada yang bisa jamin dua detik lagi kita masih hidup atau nggak.

Tertanda,
Ulfa

*Hari ke-15 #30HariMenulisSuratCinta

Sabtu, 26 Januari 2013

Surat Singkat dari Selatan

Salam.

Aku dengar dari orang terdekatmu, bahwa kamu melakukan perjalanan ke utara. Seketika aku merasa kecewa. Tak ada kabar barang setitik yang sampai padaku. Padahal kau bisa beritahu aku perihal kepergianmu bahkan satu jam sebelum kau berangkat. Ada merpati yang selalu setia mengantar surat-surat kita. Tapi kau memilih untuk tidak melakukannya. Lantas pergi begitu saja. Entah berapa lama. Entah kembali atau terpaku di utara sana.

Lewat surat ini aku hanya ingin kabari bahwa aku baik-baik di sini. Di selatan. Tempat yang jauh sekali dari jangkauanmu sekarang. Kita memang terpisah. Tapi langit kita masih sama. Langit di selatan tetap cerah. Sebagaimana lukisan yang pernah kau hadiahkan padaku. Di sana tertuang serabut awan tak beraturan. Dengan warna biru laut yang berhasil kau padukan dengan putih nan lembut.

Bagaimana kabarmu di utara? Sudahkah kau temukan apa yang kau cari? Aku bingung. Mungkin sampai surat ini sampai ke tanganmu entah berapa lamanya, aku belum tau apa maksudmu melakukan perjalanan sejauh itu. Ke utara. Tempat yang jauh sekali dari jangkauanku sekarang. Jika sejatinya kau membutuhkan tempat pulang, maka temui ibumu saja. Di rahimnya kita pernah merasakan hangat yang melebihi pelukan. Cium tangannya, kau akan rasakan sedalam-dalamnya rindu.

Sudah, lanjutkan saja. Jika telah kamu selesaikan perjalanan ke utara, jangan lupa temui aku di selatan.

Salam rindu dari selatan.

*Hari ke-14 #30HariMenulisSuratCinta

Minggu, 20 Januari 2013

Penjual Buku Keliling

Assalamualaikum. Pak? Dua hari yang lalu saya lihat bapak lagi neduh di masjid. Kebetulan saya juga ada di situ. Nemenin ibu saya ngajar TPA. Setelah memperhatikan sedikit, kemudian saya tau ternyata bapak ini penjual buku keliling. Saya bisa lihat dari gembolan yang bapak bawa ada Al-Qur’an dan buku-buku agama lainnya. Setengah jam berlalu. Hujan mulai reda. Lalu bapak memulai lagi perjalanan yang nampaknya masih panjang. Demi makan anak-istri dan tidur nyenyak di ranjang.

Sudah berapa uang yang bapak dapat hari ini? Sudah cukup untuk makan sehari nanti? Ah mungkin saya memang tidak merasakan penderitaan yang bapak alami. Sejatinya kita sama, pak. Cuma saya dan keluarga lebih beruntung. Bapak harus percaya. Keberuntungan bapak lagi disimpan baik-baik sama Tuhan, untuk nanti diberikan pada waktu yang tepat. Tuhan sedang ingin lihat seberapa kuat bapak bertahan.

Pak, saya yakin bapak telah banyak berdoa agar diberikan kehidupan yang cukup, pekerjaan di kantor, uang yang banyak, bahkan kendaraan mewah. Berkali-kali bapak sudah meminta. Tapi semuanya belum datang jua. Pak, percayalah. Semua doa bapak sudah dikabulkan oleh Tuhan, dalam bentuk yang lain. Seperti anak bapak yang berprestasi, mungkin. Atau kesehatan yang bapak dan keluarga rasakan. Tak ada doa yang tak didengar, pak. Saya rasa bapak paham perihal itu. Bapak tau kenapa Tuhan tidak memberikan bapak pekerjaan di kantor? Bisa jadi jika bapak kerja di kantor, bapak terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga lupa shalat jamaah di masjid. Semuanya bisa jadi mungkin, pak.

Semoga bapak dan keluarga selalu dilindungi dari segala hal yang membahayakan. Semoga aspal jalanan ini turut menyertai kepergian bapak mencari rejeki.

Salam.

*Hari ke-7 #30HariMenulisSuratCinta

Sabtu, 19 Januari 2013

Jika Aku Seorang Lelaki

Salam.

Jika aku adalah seorang lelaki, maka benar adanya aku tuliskan ini untukmu, perempuanku.

Apa kabarmu, Sayang? Anggap saja aku baru kembali setelah bertahun-tahun mencoba peruntungan diri. Aku mencari kesenangan. Ternyata kesenangan ada di jariku. Aku menulis. Dan aku senang. Sesederhana itu saja rupanya. Aku mencari jalan pulang. Ternyata jalannya sudah ada. Setapak demi setapak. Tinggal aku yang menjejakinya dengan gagah.

Ibumu apa kabar? Daster bunga-bunga yang warna ungu itu masih ada? Yang aku tau itu adalah pakaian kesukaannya. Dan aku tau pula itu hadiah darimu sebagai kado ulang tahunnya saat usia beliau tak lagi muda. Aku merindukan ibumu.  Layaknya aku rindu ibuku sendiri. Aku percaya, istimewanya setiap wanita ada pada rahim mereka. Maka aku tak heran jika kamu ingin jadi seperti ibumu. Yang rahimnya hangat bahkan tanpa selimut dan susu.

Apa saja yang kamu kerjakan selama ini? Aku mengerjakan banyak hal ketika jauh darimu. Aku memotong kayu semata agar aku bisa membangun rumahku bersamamu. Rumah kita. Aku memotong rumput agar aku paham seberapa tinggi rumput liar harus dipangkas sehingga halaman rumah kita tetap cantik, seperti kamu. Aku memasak sendiri agar ketika kamu jatuh sakit kita masih bisa makan sup hangat bersama. Aku suapi kamu. Dua detik kemudian kamu sembuh dari sakitmu. Sesederhana itu.

Ah aku terlarut sekali dalam perbincangan tentang kita. Tapi aku tetap ingin punya anak lima, sementara kamu hanya ingin dua. Ini lucu. Kita mengkhayal sejauh mata memandang, sepanjang pikiran mengenang. Aku tak takut bermimpi setinggi apapun, asalkan itu bersamamu. Jatuh pun masih denganmu. Selain lucu, ini juga indah. Tuhan menyaksikan kita dan tersenyum dari singgasana-Nya.
Sampai detik ini, masihkah kamu mengkhayalkan aku? Jika masih, maka kamu tetap perempuanku.

Salam,
Lelakimu.

*Hari ke-6 #30HariMenulisSuratCinta

Kamis, 17 Januari 2013

(Rasanya) Rumput Tetangga Lebih Hijau


Teruntuk kalian,
Yang merasa rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau.

Apa kabar kalian? Masihkah sibuk memperhatikan rumput di halaman? Masihkah bersitegang satu sama lain lantaran memutuskan rumput siapa yang lebih hijau? Saya heran. Hidup ini rumit. Mengapa pula ada saja yang meributkan perihal rumput-yang-lebih-hijau. Rumput-rumput tak bersalah. Hanya tumbuh dan mencari tempat berteduh. Bahkan mereka tumbuh bukan atas kehendak kalian, kan? Hijau itu Tuhan yang memutuskan. Selebihnya kita hanya menyaksikan.

Biasanya, rumput di halaman tumbuh begitu saja. Tanpa diminta. Tanpa disuruh. Sama seperti rindu yang hadir tetiba. Kita diam. Tapi sesungguhnya mereka ada. Dalam pikiran, hati, jantung, lambung bahkan usus. Pada semua organ yang kita punya. Sadarkah? Saya rasa tidak. Alam bawah sadar kita yang menjaganya. Seperti tanah yang dengan sukarela ditumbuhi rumput-rumput liar.

Hujan begini sempatkah kalian menengok keadaan rumput tetangga? Tenggelamkah mereka? Makin hijaukah? Atau terhanyut bersama hujan? Saya yakin kalian lebih memilih berdiam lebih lama di balik selimut dan memimpikan untuk menanam singkong saja keesokan harinya semata-mata agar kalian tak perlu memikirkan rumput-siapa-yang-lebih-hijau lagi. Saya harap ketika mulai memasuki usia senja, kalian tak lagi meributkan perihal rumput-siapa-yang-akan-lebih-dulu-mati.

Sekian saja. Saya tak terlalu paham perihal tanaman. Termasuk bagaimana membedakan rumput mana yang terlihat lebih hijau. Semoga semakin segar!

Jadi, rindu siapa yang rasanya lebih hijau?

Salam,
Tetangga kalian

Senin, 14 Januari 2013

Ibunya Jodohku

Teruntuk,
Ibunya jodohku.

Assalamualaikum, Bu. Aku tulis ini ketika umurku jelang 19 tahun. Ternyata pagi juga yang mengidekan sebuah surat untukmu. Mungkin nanti, ketika saatnya kita bertemu, aku akan tunjukkan blogku dan silakan engkau baca surat ini.

Ini lucu bagiku. Padahal aku belum mau menikah. Masih mahasiswa semester satu. Meskipun tak menutup kemungkinan bagi siapapun untuk menikah di umur sepertiku. Tapi apa daya? Ideku memilihmu. Tentu kita sama-sama menyadari kita belum saling kenal sampai nanti waktunya tiba. Jadi, bagaimana tingkah anakmu selama ini, Bu? Persiskah denganku? Karena yang aku dengar adalah apa yang aku beri, itulah yang aku dapat. Jika aku memberikan cinta kepada orang tuaku, apakah anakmu pun begitu? Semoga kebaikan selalu mengikuti kita semua, Bu.

Bu, jika sebelum anakmu meminangku dan engkau tau bahwa aku suka bangun siang, apakah engkau akan mengizinkan anakmu datang padaku? Jika porsi makanku melebihi porsi makan normal seorang wanita, apakah kau akan tetap membiarkan anakmu hidup bersamaku? Jujur saja, Bu. Tak ada yang lebih pahit ketimbang kejujuran yang terus dipendam.

Siapapun dan dimanapun engkau, Ibu, plis jangan menyesal ketika Tuhan memilihkanku sebagai pendamping anakmu. Ibuku pun pasti tak pernah menyesal jika ternyata jodohku adalah anakmu. Biar semua pertanyaan ini dijawab oleh waktu. Semoga engkau sehat selalu. Sampai kita bertemu dan kupersilakan engkau membaca blogku.

Salam hangat,
Jodoh anakmu


*Hari ke-1 #30harimenulissuratcinta 2013

Jumat, 07 Desember 2012

Lupa

Setiap malam
Kamu selalu pukpuk tumpukan rindu
Kamu selimuti agar tak berkerut kedinginan
Kamu peluki hinggal bulan enggan melihat
Esoknya
Tumpukan rindu diam-diam menyelinap kabur
Mereka keluar dari dekapan hangat dadamu
Merayap lewat kolong kasur
Dari beranda
Matahari terbit tinggi
Di sana ada kuning
Dan tumpukan rindu merasa
Inilah kedamaian yang hening


19.15
07122012

Rabu, 21 November 2012

Ini Mimpi

Waktu itu, cita-cita saya adalah dokter. Dua detik kemudian saya ingin jadi polisi. Esok harinya ingin jadi astronot. Dua tahun kemudian ingin jadi sutradara. Tapi apa? Dua belas tahun kemudian saya hanya jadi pengamen. Di lampu merah, kereta api, bis kota, bahkan mengamen untuk diri sendiri. Mimpi saya saat kecil terperangkap di antara petikan senar dan jari saya. Paru-paru saya teracuni asap rokok dan mungkin sudah mulai berkerak. Padahal ini pinjaman Tuhan. Apa daya saya hanya bisa merusak.

Saya pikir kantor ber-AC adalah rumah kedua saya, Toyota Fortuner  adalah kendaraan saya dan sekretaris cantik nan seksi adalah makanan sehari-hari saya. Tapi apa? Sepertinya saya terlalu banyak tidur sampai lupa bahwa yang saya tiduri hanyalah tikar, dan bukan kasur. Saya lupa bahwa ada harga yang harus dibayar mahal bahkan untuk beberapa impian kecil.

Saya diam. Terpaku. Ah saya lelah bermain lego melulu. Dunia lego terlalu sempit. Tapi takdirnya Tuhan itu luas tak terhimpit. Saya kembali ke dunia konkret. Dan mulai membuat daftar mimpi baru yang lebih rumit. Ini kertas saya, dan bukan punya kamu. Ini papan ular tangga saya, dan kamu hanyalah dadu.

21112012
18.52

Jumat, 09 November 2012

Sajak Mencuci Piring

Piring kotornya menumpuk. Sudah dua bulan tak ada yang mencuci. Keluarga ini kehabisan uang untuk hidup. Lantaran terlalu sering membeli piring. Sang suami dipecat dari kantor. Setiap harinya ia membawa piring di pantry kantor ke rumah. Juga gelas, sendok serta garpu. Sang istri dikucilkan tetangga. Meminjam piring tapi tak ada satupun yang dikembalikan. Tetangga geram. Kelak makan menggunakan apa keluarga mereka.

Suami-istri ini luntang-lantung di rumah sendiri. Perut lapar. Dua hari tak makan. Sekarang banyak lalat yang hinggap di piring kotor. Dapur mereka sangat menjijikan. Lantainya yang semula putih telah berubah jadi kekuningan. Tempat mencuci piringnya bagaikan Bantar Gebang. Sang istri berdoa,  Tuhan, tolong turunkan malaikat yang tangannya gesit mendandani semua piring ini!

Seminggu kemudian, mereka hampir mati. Hanya oksigen yang masuk ke dalam paru. Lambung mulai mengkerut. Tak lagi membentuk perut. Tak ada tetangga yang membantu. Tak mau merugi lagi karena kehilangan piring, sendok dan garpu. Yang mereka lakukan hanya terus berdoa.

Sepi. Hening. Bau. Mereka berasumsi akan mati dua detik lagi. Napas mereka satu-satu. Mata tak lagi menangkap sedikitpun cahaya. Mereka berpegangan. Berharap bisa mati dalam keadaan lebih terhormat. Tapi apa daya. Piring kotor di dapur seakan menghantui. Ingin melumat habis mereka. Ah, tunggu! Mereka merasakan ada seseorang yang datang. Itu! Di pojok ruangan. Seorang perempuan dengan gaun putih sampai mata kaki. Rambutnya hitam legam dikucir kuda. Jemarinya lentik dengan kuku yang seakan sedang duduk manis. Cantik. Sangat cantik. Tuhan, apakah ini yang kami pinta sejak dulu? Seorang malaikat yang kelak akan mencucikan semua piring kotor di dapur? Amboi! Tapi ini bidadari. Ya kan, Tuhan? Kau anugerahi kami bidadari? Teriak sang suami dalam hati. Sang istri berusaha memeluk suami. Mereka terharu. Mereka yakin dua detik lagi akan makan dengan piring yang bersih.

Sang bidadari berjalan anggun menuju dapur. Tak ada sedikitpun raut kejijikan dari wajahnya. Tetap tersenyum. Perlahan menuangkan cairan pencuci piring. Mengambil spons dan dengan lihainya memoles semua piring kotor. Voila! Dua detik kemudian semuanya sudah bersih. Cit cit cit! Begitu bunyi permukaan piringnya. Ditengok keadaan sang suami dan istri. Bidadari tersentak. Belum sempat makan enak, dengan piring yang bersih, mereka telah dipanggil Tuhan. Bidadari menangis sejadi-jadinya. Apa gunanya ia bersihkan semua piring jika mereka akhirnya mati juga. Dengan sekuat tenaga, bidadari kuburkan sepasang kekasih ini dalam satu lubang di halaman belakang. Tak lupa semua piring yang berdecit dimasukkan ke dalamnya. Lantas bidadari pergi. Bersama sebuah piring dengan noda darah di permukaannya. Aku mengambil sedikit darah mereka sebagai kenang-kenangan, ujarnya.



19.00
09112012