Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 September 2015

Ada

Ada yang dipaksa saat aku menulis ini. Baik itu jemari maupun kemampuan menyusun kalimat demi kalimat dan tanda baca yang tepat. Apabila aku salah menempatkan koma atau tanda tanya atau lupa menempatkan tanda titik bahkanspasi, maafkan saja ya. Tak ada yang lebih menyebalkan ketika inginmu adalah beristirahat tapi kamu tak mampu, atau inginmu muntah kata tapi tak keluar juga.

Ada yang ditahan saat aku menulis ini. Marah yang bersebab, tapi sudah hilang lagi sebelum kamu sempat sadari. Ini namanya marah sendiri. Maka jangan pernah kamu sepelekan perempuan yang tiba-tiba diam padahal sebelumnya dia bertingkah bak tukang obat yang menawarkan penyembuh-penyembuh bagi sedihmu atau penguat-penguat bagi senangmu.

Ada yang berisik di kepalaku. Berbincang tentang kamu. Melulu.

16.51
25 Sept 2015

Sabtu, 08 Agustus 2015

Rindu.

Banyak sekali barang di kamar itu. Yang bersih, yang penting, sampah, entahlah. Tak bisa aku pilih mana yang ingin kubawa pulang, mana yang ingin kubiarkan tinggal. Maka berpindahlah aku ke ruang tamu, untuk sekedar menghirup oksigen yang tak terlalu banyak menyimpan debu.

Waktu berjalan saja tanpa pernah menunggu. Ternyata aku habiskan waktu hampir tiga jam hanya untuk berdiam di ruang tamu. Aku mengutuk diri sendiri, katamu, kau ingin pulang! Baiklah, aku beranjak dan kembali masuk kamar, tak ada yang berubah. Masih saja berantakan, masih saja entahlah. Akhirnya kuputuskan untuk tidak membawa apa-apa. Kecuali dompet, handphone, dan barang kecil lainnya. Kugendong ranselku. Ingin pulang. Tapi aneh, kenapa ransel ini rasanya berat. Seperti ada banyak batu di dalamnya. Aku acuh saja. Karena bingung sendiri tidak memberimu uang satu juta.

Tak perlu aku deskripsikan dengan rinci bagaimana lalu lintas Jakarta menjelang senja. Yang kudengar hanya suara klakson bikin pekak telinga dan suara manusia yang terlahir tanpa kesabaran, terus-menerus berteriak, menyumpahserapahi lalu lintas. Kalian norak atau bagaimana sih.

Sampai di rumah hampir pukul delapan malam. Tas ini sungguh membuat punggungku sial. Penasaran, ingin ku lihat apa isinya. Mana tahu sungguhan dapat uang satu juta.

Aku kaget. Ingin memekik, tapi kurasa itu tak perlu. Akhirnya hanya kaget. Dengan mata terbelalak sedikit. Bukan hanya dompet dan handphone yang ada di dalam tas ini, tapi rindu memenuhi seluruh rongga tas ku. Bahkan sampai pada kantong yang terkecil. Sungguh sial lagi. Ternyata yang lucu bukanlah Sule atau Aziz Gagap, melainkan rindu. Berani sekali mereka menyelinap ke dalam tas dan menyamankan diri di setiap sisi. Sial sial lagi, aku tak pandai menyampaikan emosi dan hanya bisa tersenyum. Aku digelitik rindu.

Kau tahu, aku bukan orang yang rajin menulis diari, bahkan catatan kuliahku tak lebih dari sekedar sub judul yang kukutip dari slide presentasi. Ya, hanya sub judul saja. Tapi rindu adalah tangan-tangan yang tak mampu menulisi buku diari dengan cantik sebelum tahu seberapa baik kabarmu hari ini. Maka sekarang kau paham, mengapa aku belum juga rajin menulis diari. Karena rindu ini pun belum selesai dibagi.

Maka kau berhutang padaku, atau aku berhutang padamu, atau siapa berhutang pada siapa, untuk bisa selesaikan rindu ini.

08/08/2015
14.49

Minggu, 15 Februari 2015

Dari Ulfa, Oleh Ulfa, Untuk Ulfa

Musuhmu yang paling nyata bukanlah orang yang membicarakan aibmu. Melainkan rasa malas yang tinggal dalam dirimu.

Halo, Fa. Lumayan lama nggak nulis surat yah. Nggak, aku nggak mau dengar alasan kamu, karena sesungguhnya aku udah tahu. Kalo kamu bilang kamu terlalu sibuk dengan liburan kamu kemarin, lemme say this, you're wrong. Seharusnya di sana bisa lebih banyak inspirasi kamu yang keluar karena kamu ketemu sama orang-orang baru. Kamu bisa tulis surat untuk ibu pedagang nasi liwet, mbak-mbak sate lontong atau bapak-bapak penjual karak. Atau bahkan kamu tulis surat untuk Ammar, yang entah kenapa sekarang jadi pendiem banget.

Aku tau sih, setiap momen liburan itu patut untuk dinikmati, diambil fotonya, dan direkam memorinya. Kita, Fa, seharusnya bisa memaksimalkan momen-momen itu ke dalam tulisan. Aku akui, aku juga berperan dalam sisi kemalasan kamu. Hell yeah, kita nggak mungkin berpisah, Fa. Bahkan untuk sepersekian detik.

Fa, aku minta maaf. Ternyata aku belum cukup kuat untuk menegakkan hasrat menulismu. Atau hasrat-hasrat positif yang lain. Seperti solat di awal waktu, atau membantu Ibu tanpa disuruh terlebih dulu. Aku minta maaf. Ternyata aku belum cukup membantumu menjadi orang superior yang rendah hati. Aku (dan /  atau juga kamu) belum cukup berani untuk berkata lantang pada dunia. Aku minta maaf. Untuk waktumu yang terbuang sia-sia karena kebanyakan tidur atau bermain handphone berlama-lama. Aku bersumpah, aku minta maaf, Fa.

Fa, ala bisa karena biasa. Mari kita saling mengingatkan. Ini semua, dari Ulfa, oleh Ulfa, untuk Ulfa.

Salam cinta yang sedalam-dalamnya cinta,
Dirimu, Ulfa.


#30HariMenulisSuratCinta #2015 #HariKeTujuhBelas

Minggu, 01 Februari 2015

Mentari

Kepada Mentari,
yang menyinari hati lelaki.

Nggak nyangka ((belom apa-apa udah nggak nyangka)). Kita 20 tahun loh sekarang! Main bareng, sekolah bareng. Dari mulai main petak umpet, congklak, taplak gunung, benteng sampe main hati, rasa-rasanya udah ngerasain bareng ya. Sekarang, elo kuliah di Gizi, gue di Psikologi. Rencananya lo akan lulus duluan karena ambil strata D3. Gue, semoga satu setengah tahun ke depan ini menjadi masa-masa perjuangan yang paling berharga untuk dapet gelar sarjana.

Surat ini beneran gue tulis beberapa saat setelah kita sama temen-temen yang lain ngobrol di chat BBM. Gue akui, untuk hari ketiga di event #30HariMenulisSuratCinta ini gue belom nemu seseorang (atau sesuatu) untuk ditulisi surat. Tapi ternyata lo hadir untuk mengisi kekosongan itu. Dan... voila! This letter is going to you, man :)

Tidak kurang dari dua jam lagi sejak surat ini ditulis, kereta lo berangkat. Ke Malang. Untuk dua bulan, demi memenuhi syarat tugas akhir. Mungkin sebagian dari kita nggak akan terlalu ngeh perihal kepergian, sebelum ada yang pamit dengan sopan. You did it. Invited us on a chatboard just to see you say goodbye. For awhile. Dulu, pas masih SD, kita main sama semuanya. Tapi semakin beranjak dewasa, tinggal kita sisa dua. Yang dulu main bareng, sekarang pada nggak tau kemana, malah lama-lama makin jauh. Justru yang dulunya nggak kenal, sekarang yang ngajak main bareng. Betapa waktu memang bisa mengubah perkawanan tanpa kita minta.

Yang baik ya di Malang. Nggak usah galau terus. Rasanya cepet banget tau-tau lo udah harus magang ke sana. Dua bulan pula! Gue paling banter ninggalin lo cuma dua minggu waktu ke Pare :") Emang sih nggak setiap hari kita ketemu. Karena kita nggak butuh pertemuan yang setiap hari. Yang kita butuh adalah keberadaan yang benar-benar ada. Gue tau lo ada, lo tau gue ada. Sekarang, rasanya beda. Gue di rumah, lo di Malang. Jauh. Haha. Ha ha :( Siapa yang nemenin gue ke Roti Bakar kalo di sini cuma ada Izhar, Apip, Dimas, Cahya, Didit? :( Siapa yang nemenin gue nongkrong di mesjid? :(

Yang baik ya di Malang. Kalo lo kesulitan tentang konseling, jangan sungkan tanya ke Izhar. Atau kalo memang butuh banget, nanti gue kirimin materi mata kuliah Interview gue. Mana tau bisa bantu lo lebih luwes ngadepin pasien. He he he.

Yang baik ya di Malang. Nggak usah takut kesaing sama dokter. Mending lo berdampingan sama dokter yang udah sepuh aja. Bisa disalimin. Dijamin nggak akan neko-neko dan nggak berani nyepelin perempuan kayak lo.

Yang kuat ya. Lo gak punya bendera putih untuk menyerah :)

Salam,
Ulfa yang takut akan perpisahan.

31 Januari 2015
1.53 AM

#30HariMenulisSuratCinta #2015 #SuratHariKetiga

Kamis, 22 Januari 2015

Sederhana Saja


Saat aku menulis ini, jam dinding di kamar mengarahkan jarum panjangnya hampir ke angka tiga, dan jarum pendeknya di angka tujuh. Hujan belum juga mau berhenti. Air-air itu rasanya seperti sudah dua tahun tak mampir ke bumi. Barangkali ia rindu. Tak diberi ruang sedikit pun kepada matahari untuk sekedar menyampirkan cahayanya di jemuran milik Ibu.

Kau, bagaimana? Jika belum juga kembali ke rumah, bisa aku pastikan kita merasakan hal yang sama. Sama-sama hujan sepanjang hari.  Suhu udara sedikit merendah. Dan kalau kau adalah seorang pemerhati, akan kau temukan beberapa tweet senada dari beberapa orang berbeda. Misalnya, “Duh ((sebut nama kota yang biasanya udaranya tidak dingin)) pagi-pagi gini, berasa di Puncak”. Apa? Nyatanya kau tidak pernah menyadari hal itu? Dua hal yang dapat aku simpulkan adalah, pertama, kau jarang mengecek timeline Twitter-mu, kedua, kau memang bukan pemerhati. Tapi instingku berkata, kau adalah yang kedua. Apa? Aku salah? Coba lihat dirimu.

Liburan baru berjalan dua hari. Apa aku salah ingat? Tidak tahu lah. Mendadak aku hanya mengenal hari libur, lupa sesaat akan Senin, Selasa, Rabu, sampai Minggu. Film dan buku menjadi sahabat sejati bagai selimut di kala dingin. Rasanya aku bisa menghitung kapan pantatku tidak menempel dengan kasur. Dan jawabannya bisa aku pastikan tidak lebih dari sepuluh jari.

Kau tahu, ada beberapa orang yang ditakdirkan untuk tidak banyak bicara. Mereka nyaman dengan itu. Bahkan merasa lebih aman. Aku, bisa jadi salah satunya. Film dan buku yang lebih banyak mengambil alih percakapan dalam kepalaku. Dan sesekali, kamu.

Yang ingin aku sampaikan setelah ini bukanlah lelucon. Bukan pula sesuatu yang sudah aku buktikan. Tapi aku berpikir, bahwa yang diam itu tidak selalu berakhir dengan kecepirit (ups maaf), bisa jadi dia diam-diam rindu. Dan aku mengkhianati judul pada tulisan ini, bahwa rindu tidak sesederhana itu. Iya, itu.

Terimakasih, Tuhan. Telah menciptakan hujan dengan komposisi dan intensitas yang pas.

Source: Google

Minggu, 18 Januari 2015

Review Semester 5

Halo. Halo selamat pagi, siang, sore, malam! Menurut survey kecil-kecilan yang gue lakukan selama kurang lebih 2 menit, semester 5 ini adalah semester paling semrawut yang pernah gue alami selama 2,5 tahun kuliah. Iya, kocar kacir banget ngejalaninnya. Dimulai dari kuota tiap kelas yang tiba-tiba berkurang karena adanya kebijakan baru -awalnya satu kelas bisa isi sekitar 40 mahasiswa, tapi sekarang cuma bisa 25, maksimal 30, itupun dengan syarat harus pergi ke akademik dulu untuk minta tambah kursi-. Angkatan gue yang dari lahir cuma ada 4 kelas, mulai semester 5, jadi ada 6 kelas. Lumayan kzl ya. Pas lagi liburan semester 4 gue nyantai-nyantai isi KRS entaran aja. Eh giliran mau isi malah kalang kabut karena keabisan kursi.

Kuliah hari Senin pertama di semester 5 kemarin gue awali dengan muka penuh tanda tanya pas masuk kelas. "Kok ini banyak orang baru -yang bukan angkatan gue dan bukan senior juga- dah?". Oalah, akhirnya gue paham, banyak junior yang "dewasa sebelum waktunya". Pantesan temen-temen banyak yang "ketendang" ke kelas lain. Ternyata mereka lebih gesit isi KRS dibanding kita. Baiklah~

Jauh sebelum semester 5 ini dimulai, gue udah denger kabar burung dari senior tentang kejahatan periode waktu bernama "Semester 5" ini.

*di tempat fotocopy*
senior 1 (cewek): "aduh, Fa, nanti rasain ya semester 5 yang tugasnya banyak banget. Berat badan aku aja sampe turun. Nih jadi makin kurus"
senior 2 (cewek): "Iya. Aku ngerjain tugasnya sampe mau nangis"
((ngerjain tugas atau lagi stalking IG-nya mantan yang udah punya pacar baru, mb?))

*di lobi kampus*
senior 3 (cowok): "waktu gue semester 5 sih kuliah PIO 2-nya hari Sabtu"
*kemudian petir menyambar dari segala penjuru dunia*
Anxietas bertambah ketika denger ada kuliah hari Sabtu. Tapi untungnya pas jaman gue semester 5 kuliah PIO 2-nya hari Jum'at. Puji Syukur kehadirat Allah swt.

Terlepas dari opini-opini tersebut, gue memang harus menjalani ini semua. Mau tugasnya banyak kek, mau ngerjain tugasnya sampe nangis-nangis kek, nobody cares. Gue, elo, kita, pasti melewati masa-masa kayak gini.

Lanjut.. beberapa minggu pertama, semester 5 ini masih berjalan dengan baik. Bersahabat, mengalir dengan santai. Tapi saat-saat mendekati UTS, semuanya berubah. Mulai dari tugas UTS yang dikerjain secara kelompok, take home tapi nggak boleh nyontek sama sekali, sampe UTS yang dilakukan dua minggu sebelum UAS. Tuhan, salah kami apa? :(

Gue akui, semester 5  ini emang padet banget. Bahkan mikirin untuk pergi jalan-jalan di tengah kejaran tugas pun rasanya gak sanggup. Hilang daya, raib upaya. Semester-semester sebelumnya masih sempet lah nyolong hari Sabtu buat pergi ke Puncak sama temen-temen. Tapi hal itu nggak terjadi di semester ini.  Semakin mendekati weekend, ngerjain tugas makin ditunda. Semakin mendekati hari Senin, pikiran ini semakin ditekan untuk terus kerja.

UTS berlalu, itu artinya beberapa minggu setelahnya akan ada UAS. Beberapa mata kuliah nggak ngadain UAS tertulis, bahkan ada yang nggak UAS sama sekali. Tapi, tunggu, jangan senang dulu. Gue jadi mempercayai satu hal, seiring perkembangan zaman, UAS mengalami perluasan makna. Berikut jenis-jenisnya yang udah gue alami selama semester 5:
1. Tugas makalah yang dirancang sendiri mulai dari judul sampai daftar pustaka, mengaitkan fenomena psikologi dengan Islam adalah UAS.
2. Analisis film yang bertema Psikologi adalah tugas pengantar UAS ((oh Man, mau UAS aja harus ada yang nganterin))
3. Melakukan eksperimen dan menyusun laporan layaknya skripsi adalah UAS (juga).
4. UAS tertulis tapi seminggu sebelumnya udah dikasih tau soal-soalnya adalah UAS (juga).

Gue hilang nafsu makan waktu ngerjain  yang poin pertama. Tak lain dan tak bukan adalah mata kuliah Islam dan Psikologi dengan dosen pengampu Pak Abdul Mujib yang juga menjabat sebagai dekan. Pak, we love you! Maafkan kalo tugas saya agak-agak melipir bahkan menyimpang dari yang seharusnya. Saya ngerjainnya di mekdi sih :( dua hari sebelum deadline yang ditentukan :( tapi finishing segalanya baru dilakukan 2 jam sebelum tugas itu dikumpulin :(

Oke, oke, semua UAS terlewati. Dan dengan ini semester 5 kita akhiri. Gue sama temen-temen udah sempet liburan ke Pulai Pari... but wait! Masih ada satu ganjalan sebesar batu berlian yang nyatanya masih jadi hutang. Yaitu adalah tugas Psikometri! Analisis item pake ITEMAN dan QUEST. Kenapa tugas ini masih ada? Karena kebetulan kelas gue baru banget dapet materi tentang dua aplikasi tersebut di akhir-akhir perkuliahan, yang mana para mahasiswanya meminta tangguhan waktu pengumpulan tugas tersebut dan deadline sudah ditentukan yaitu satu minggu setelah UAS Psikometri.

Selain tugas yang emang banyak dan numpuk, banyak hal lain yang gue lewati selama semester ini. Event yang paling ngeheits menurut gue sih PEMIRA (Pemilu Raya), yaitu ajang demokrasi mahasiswa untuk memilih Ketua BEM -sekarang di kampus gue disebut DEMA (Dewan Mahasiswa). Kebetulan semester ini gue ikut terjun langsung selama prosesnya karena temen gue maju sebagai calon dari independen. Gue dan temen-temen lain bergerak sebagai tim suksesnya. Sayangnya, ternyata kita gak sukses untuk maju sebagai "pengayom" mahasiswa. Tapi gak papa, kita kalah terhormat. Selama PEMIRA, gue jadi tahu, mana yang temen, mana yang temen banget. Ada dua tipe orang yang muncul saat event semacam ini sedang berlangsung, pertama, yang awalnya gak kenal tapi pas PEMIRA jadi sok-sokan nyapa, kedua, yang awalnya kenal eh pas PEMIRA malah kayak gak pernah ketemu. That's all. Gue gak becanda.

Oh ya, kegiatan yang baru gue ikuti di semester 5 ini adalah..... SAMAN! Ciyeee anak saman. Semester 5 ini nggak ada tampil sih, baru latihan aja. Tapi direncakan wisuda akhir Februari nanti menjadi debut pertama gue! Hakhakhak :D

Gue juga ketemu temen-temen baru dari angkatan 2014. Ada Anggi, Gio, Salsa, Ibnu, Taufan, Aji, Hadi, Iko. Adik yang lucu-lucu :))

Selain masalah perkampusan dan persosialitaan, urusan hati masih juga rasa-rasa agak pelik. Gak tau. Pelik aja. Bego aja. Tapi gimana. Hati kan gitu. Sukanya bandel. Yauda sih.

Berikut ada beberapa momen yang bisa terekam dengan kamera, sedikit sih, karena selebihnya terekam di pikiran:

Bareng anak-anak dari Sekolah Khusus Muara Sejahtera. Waktu itu, gue sekelompok sama Restu dan Mia lagi ada tugas Psikodiagnostik Observasi untuk bikin video. Karena kita ambil bidang Pendidikan, maka temen-temen di sini yang kita ambil sebagai objek observasi. Terimakasih untuk pertemuan singkatnya :)


Muka-kocar-kacir-moment


25112014. Ini selepas teater mini yang merupakan rangkaian acara dari kampanye terbuka Bakal Calon Ketua dan Wakil Ketua DEMA-F Psikologi nomor urut 2, Damas-Morita. Pas lagi teateran, tau-tau hujan deras. Tapi pas selesai hujannya juga selesai. Berkah, berkah, berkah! :D

14012015. Liburan sesi pertama ((emang bakalan ada sesi selanjutnya, huh?)). Pulai Pari is in your hand!


15012015. Syukuran kelas di rumah Faris. Meskipun sebenarnya anggota Ruang108  itu ada 35 mahasiswa, tapi gak papa yang dateng syukuran cuma segini. Semoga maksud dan tujuan kita tidak berkurang sedikit pun :")

Aku sister olshop, Abduh brother olshop-nya. Kita sama-sama tahu gimana rasanya dapet customer yang pengertian banget, atau customer yang errrr banget. We're really hard-worker. Masih meragukan kami?


Tersenyumlah. Sebelum senyum kuda jauh lebih manis dibanding senyum kita :))


Sabtu, 06 Desember 2014

Tentang Orang-Orang yang Dipertemukan Karena Merasakan Hal yang Sama



Maimunah: “Rus, aku udah bilang ke si Joko itu, masih banyak ikan di laut. Kayaknya dia sayang banget sama Tini, tapi nggak tau perasaan Tini gimana.”

Rusmini: “Iya. Ya gimana. Untuk urusan hati,  nggak bisa maksain.”

Maimunah: “Sadar gak sih, seharusnya kita nggak kayak gini, sayang sama orang yang nggak sayang sama kita. Kita harus berhenti…. :(

Rusmini: “Hm… yang kita harus lakukan adalah berhenti nasihatin orang untuk move on sementara kita masih kejebak sama perasaan sendiri.”

Maimunah: “Iya, Rus… Aku bisa dengan mudah bilang kayak gitu ke Joko, tapi aku sendiri nggak bisa ngelakuinnya. Kita harus berhenti mengejar, Rus.”

Rusmini: “…….”

Maimunah: “Kita cuma perlu berhenti mengejar. Tapi untuk mencintai, tetep nggak bisa dipaksa untuk berhenti :)

Rusmini: “Ah… :)



Percakapan seperti di atas, bagi gue, agak jenaka. Tentang bagaimana orang-orang yang merasakan hal yang sama, saling dipertemukan. Mereka yang suka mobil antik, pada akhirnya akan berkumpul dengan mereka yang juga suka mobil antik. Mereka yang kesulitan isi KRS pada akhirnya akan saling dipertemukan di ruang dosen pembimbing akademik. Mereka yang sayang sama orang yang tidak menyayangi mereka pun pada akhirnya dipertemukan, dan ujung-ujungnya akan saling curhat. Entah saat makan siang, kuliah atau diskusi sambil santai tapi banyakan santainya.


Ada yang bilang, kebetulan itu sebenernya nggak ada. Yang ada ya takdir. Bagaimana cara mencapainya, karena sama-sama suka mobil antik atau sama-sama sayang ke orang yang nggak sayang sama dia, tetep disebut takdir. Bukan kebetulan. Biasanya juga, mereka yang merasakan hal yang sama akan punya ikatan tersendiri. Contohnya, cewek-cewek baru saling kenal di kuliahan, sama-sama maba. Udah kuliah dua bulan, mulai terjalin obrolan-obrolan yang makin mendalam.


A: “Eh, lo kenal gak sama si Z?”

B: “Oh iya, kenal. Pas ospek, gue sekelompok sama dia. Kenapa emang?”

A: “Kok dia orangnya begini ya? Masa waktu bla bla bla, gue nyenggol bla bla bla-nya dia, eh dia malah bla bla bla banget. Gila. Padahal gue bla bla bla”

B: “Serius???????? Lo sebel sama dia??? Iiiiiiihhh gue juga kaliiiiiiiiiiii. Pas pertama ngobrol, dia bla bla bla asik gitu. Tapi kok lama-lama bla bla bla malesin ya. Dia ngomong terus bla bla bla. Kuping gue bla bla bla”

A: “Iya kaaaaaaan?? Bla bla bla”

((sampai dua hari kemudian belum selesai juga percakapan ini))


Mereka bertemu, mereka klop, mereka click, karena membenci seseorang yang sama. Kalo takdir mempertemukan mereka yang sama-sama bahagia, it’s okay, it’s love. Lantas, gimana dengan Maimunah, Rusmini dan Joko, yang sama-sama sayang ke orang yang nggak sayang sama mereka? Mereka bisa saling menasihati, tapi nggak bisa menjalankan nasihat itu.


Gue jadi mulai mikir, hidup ini memang seneng banget bercanda. Di saat tiba-tiba perasaan itu datang –entah mulai kapan, entah dari mana-, di saat lo sering ngalamin the-duduk-sebelahan-sama-dia-aja-udah-seneng-moment, di saat lo mencoba membahagiakan dia, saat itu pula ternyata dia sedang mencoba membahagiakan yang lain juga. Lucu. Iya. Terlebih hidup yang lucu itu nggak bisa lepas dari sesuatu yang namanya cinta.


Gue inget buku kumpulan puisinya Tere Liye yang berjudul Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta. Isinya jenaka, ringan, bikin senyum-senyum terus angguk-angguk. ”Perasaan adalah perasaan. Cinta adalah cinta. Meski tidak kita bilang, tetap saja cinta. Bahkan kalaupun cinta itu ditolak, dihina, dibanting, dia sungguh tetap cinta. Paling disebut dengan cinta tak sampai, cinta terpendam.” Itu yang dibilang sama Tere Liye di salah satu puisinya. Terus gue mikir, mikir, mikir. Kok Tere Liye bener sih. Rasanya mau salim sama beliau. Salam takzim!

Kutipan di atas berasal dari Instagram-nya Bernard Batubara (@benzbara_), seorang penulis muda yang lagi melejit banget namanya. Desember ini, Bang Bara mau ngeluarin buku baru lagi yang berjudul Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri. Baca judulnya aja nadi gue udah tersayat dikit :(

Postingan ini intinya apa? Nggak ada. Eh ada deng. Eh terserah sih sama para pembaca ini ((iya kalo ada yang baca selain gue)). Intinya ya.... gue nggak tau :( maafin gue :(


PS: we all aren't a diver, but lover. Keep calm because we're in the same line.
~nowplaying Heal The World - Michael Jackson 

Senin, 24 November 2014

Pohon Aneh

Minggu kedua musim kemarau. Ada yang aneh di halaman rumah. Pohon randu berguguran daunnya seperti biasa. Tapi terlihat satu pohon yang tiba-tiba ada. Pohon pengkhianat. Daunnya berguguran tak tertahankan. Amat sangat nyata. Pagi ini, aku menyaksikan pengkhianat yang nyata bertebaran dimana-mana. Tuhan, siapa yang sanggup menyapukan ini semua?


24112014
08.00

Kamis, 10 Juli 2014

Berbincang dengan Tuhan (2)

Tuhan, kali ini tentang Palestina. Negeri yang melahirkan para syahid dan syahidah.

Ini semua pasti menjadi rahasia-Mu. Mengapa ada Israel yang tidak berperikemanusiaan dan mengapa ada Palestina yang senantiasa saling memperjuangkan saudara-saudaranya. Aku heran, tak lelahkah mereka, para tentara suruhan itu, melakukan penyerangan terus-menerus ke Palestina? Di mana berdirinya Masjid Al-Aqsha yang menjadi kebanggaan kita (seharusnya). Di mana anak kecil-anak kecil diajarkan oleh orang tua mereka untuk mengabadikan Al-Qur'an dengan hati dan pikiran.

Tuhan, terimakasih atas kesadaran ini. Bahwa sedihku tidaklah ada satu per sejutanya dibanding penderitaan orang-orang di Palestina.

Tuhan, jika perjuangan Palestina memang belum saatnya berakhir, setidaknya kuatkan mereka dengan hati yang condong pada-Mu.

Berbincang dengan Tuhan (1)

Tak pantas rasanya ketika aku menyapa-Mu dengan apa kabar karena Engkau adalah Yang Maha Sebaik-Baiknya Keadaan. Tuhan, sejenak aku ingin berbincang dengan-Mu. Betapa egois ketika barusan aku bilang sejenak. Padahal sejatinya manusia selalu butuh waktu untuk berbincang dengan Tuhannya, termasuk aku.

Tuhan, sudah hampir seminggu ini aku merasa kacau. Tak enak makan, tak enak tidur. Ini tidak seperti rumah yang biasanya. Ah Tuhan, apa yang sesungguhnya tidak baik di sini? Betapa masalah kecil memang bisa mengubah semuanya. Menjadi baik, atau bahkan buruk. Dan diam adalah satu-satunya jalan keluar yang bisa aku lakukan. Terkadang aku benci semua hal yang ada di luar diriku. Tidak, tidak. Bukan benci. Lebih tepatnya adalah aku tak tahu harus bersikap bagaimana terhadap mereka, terhadap semua hal yang berasal dari luar diriku. Alhasil, hari-hari berlalu untuk memecahkan teka-teki itu. Teka-teki yang aku buat sendiri. Yang sialnya jawabannya tidak ada di buku lelucon zaman SD-ku dulu.

Tuhan, Yang Maha Sebaik-Baiknya Keadaan, kali ini aku meminta (bahkan memaksa) untuk Engkau mengembalikan semuanya seperti semula. Baik baik saja. Tak tahan aku dibuatnya. Aku tak siap untuk penolakan-penolakan yang datang. Aku tak tahu kenapa aku sebut itu sebagai penolakan padahal sesungguhnya aku diterima-diterima saja di sini. Tapi apa dayaku, Tuhan, masa lalu saja sudah seharusnya dimaafkan. Apalagi aku? Kau setuju denganku kan, Tuhan?

Tuhan, Kau pasti lebih dari tahu bahwa aku ini makhluk yang bermain peran dengan perasaan. Aku wanita. Setidakpeduli apapun aku dengan orang lain, tapi perasaan ini sedikit banyak ikut mengambil alih. Mengambil bagian dari setiap tindakan. Kau juga pasti lebih dari tahu bahwa menangis dua jam tanpa henti akan berakibat fatal bagi wajah dan hati.

Tuhan, aku ingin marah. Tapi ini jadi rahasia kita saja. Tak perlu disebarluaskan di Social Media. Aku marah pada keadaan, Tuhan. Keadaan itu siapa? Keadaan itu apa?

Tuhan, Yang Maha Sebaik-Baiknya Keadaan, maafkan aku.

Sabtu, 05 Juli 2014

Sebuah Piring

Aku punya sebuah piring, Kawan. Piring yang sangat indah. Melebihi piring-piring yang dimiliki Ibu kalian. Bahkan piring-piring yang dijual oleh tukang perabotan keliling yang menggunakan mobil pick up. Piring itu istimewa. Hadiah dari seorang saudara jauh saat usiaku 13 tahun, hasil dari ia berlibur ke India selama 2 minggu. Pasti banyak yang menarik di sana sampai saudara jauhku itu rela mendatanginya untuk menghilangkan penat selama ia bekerja di kota.

Persetan dengan saudara jauhku. Aku tak ingin membicarakannya lebih lanjut. Kembali ke piring itu, piring yang aku jaga baik-baik. Tidak pernah aku gunakan sebagai alas makan, bahkan tempat untuk nyeruput kopi. Aku simpan rapi di kamarku. Tentu saja, kalian tak boleh tahu di mana letaknya. Bahkan orang tuaku sekalipun tidak tahu. Hanya aku, dan Tuhan.

Piring itu memang tak sempurna, tapi aku tegaskan sekali lagi, piring itu istimewa. Bagiku. Di atas piring itu, aku letakkan kepercayaan orang-orang, terlebih kepercayaan ayah ibuku. Kadang-kadang, piring itu aku bawa tidur bersamaku. Tak jarang aku bermimpi, piring itu menjadi sesuatu yang hidup. sesuatu yang bisa memenuhi kebutuhanku. Termasuk kebutuhan kepercayaan-kepercayaan yang aku letakkan di atasnya. Suatu ketika, di hari yang panas teriknya menyengat sampai ke darah daging, aku rebahan di lantai kamar, sambil menimang piring itu. Entah apa yang ada di pikiranku. Seandainya waktu bisa diulang kembali, aku tak akan mengambil piring itu dari tempatnya, terkecuali ketika kematian sudah sampai di pangkal lututku. Sebelum semuanya terjadi, aku melihat cicak di langit-langit kamarku. Jika dia terjatuh, maka akan mendarat dengan mulus di dahiku. Piring itu, aku letakkan di samping siku kananku. Sampai semesta menjawab semuanya. Aku terkaget-kaget karena (benar saja) tiba-tiba cicak itu jatuh tepat di dahiku. Berkecamuk perasaanku. Lantas aku terburu-buru bangun dan dengan tanpa sengaja piring itu tertekan oleh sikuku sampai retak. Sampai sakit pula siku ini. Sampai aku merasa seperti ada yang mengaliri sebagian tubuhku yang masih terduduk di lantai. Kalian tahu apa itu? Ya, benar. Kepercayaan orang-orang. Termasuk kepercayaan ayah ibuku. Tumpah berceceran di lantai. Tak hanya retak, piringnya terbelah menjadi tiga bagian yang hampir sama besar. Tak kuasa, ingin menangis rasanya. Ingin meronta-ronta (bahkan memaksa) pada Tuhan untuk bisa memutar waktu barang dua menit saja.

Memang, sesuatu yang rusak, meskipun diperbaiki, tidak akan bisa kembali seperti sedia kala. Termasuk piring itu, tempat di mana aku meletakkan kepercayaan orang-orang, terlebih kepercayaan ayah ibuku. Tapi tangisan bahkan penyesalan pun tidak mampu membuatnya rekat kembali. Setelahnya, aku mengambil piring yang lain dari dapur ibuku. Aku pinjam untuk meletakkan kepercayaan orang-orang yang masih bisa aku selamatkan. Termasuk kepercayaan ayah ibuku. Diriku sendiri, dan diri kita semua, seperti sebuah masa lalu. Tidak perlu disalahkan. Hanya perlu dimaafkan.

Minggu, 16 Februari 2014

Menulis itu Membahagiakan


Halo Icha yang entik di Bogor.
Berangkat dari screencapture di atas, aku mau jawab pertanyaanmu dengan lebih lengkap di sini. Aku seneng pas kamu tanya "Nulis itu bahagia ya?". Yang pertama mau aku bilang adalah nulis itu memang membahagiakan :') sama kayak pas kamu asik-asikan scroll Path di tablet-mu, liatin update-an orang-orang dan nge-play nowplaying mereka. Kalo kamu lagi nge-Path biasanya akan tiba-tiba kedengeran suara musik dengan jumlah volume ganjil (yang cuma kamu yang tau). Bahagia gak? Asik gak? Itulah menulis bagi aku. Nulis itu membahagiakan. Sama kayak pas kamu melantunkan semua lagu yang terdengar oleh telinga kamu. Melihat kebiasaan kamu yang itu, aku jadi yakin kayaknya kamu hafal semua lirik lagu di dunia ini. Iya, lebay sih. Yang penting bahagia, kan? Nulis itu membahagiakan. Sama kayak pas kamu nemu view yang indah untuk foto. Dimanapun tempatnya, kapanpun waktunya. It's totally your cup of tea. So, to write is my cup of tea :') Cha, kata orang, jika tulisanmu dirasa kurang greget, itu artinya kamu harus lebih "sakit" lagi. Tapi percayalah, kamu nggak harus "sakit" dulu untuk bisa nulis. Justru kebahagiaanlah yang seharusnya lebih sering dituliskan.

Icha yang entik, bersyukurlah ada darah seni -terutama musik- yang mengalir dalam dirimu. Kamu tau? Sesungguhnya aku mau banget ikut les gitar juga pas kita di Pare kemarin. Tapi aku pikir-pikir lagi bahwa tujuan utama aku ke Pare bukan untuk itu. Bukan untuk secara paksa melahirkan seni musik dalam diriku. Makanya, les gitar yang kemarin itu jangan cuma disia-siakan ya, Cha. Emang nggak capek minta tolong orang terus untuk ngiringin kamu nyanyi? :D

Cha, apa kabar hatimu? Sudahkah serpihan retakannya kembali utuh? Sudah adakah yang kembali mengisi dan melapangkan dadamu di setiap detiknya? Sudah atau belum, yang kamu butuhkan itu bersabar dan mencoba melihat dunia dengan kacamata yang lebih bijak lagi. Aku salut pas denger cerita kamu tentang usaha kamu untuk tetep berbuat baik ke dia yang udah jahatin kamu. Jahatin kamu banget. Bahkan banyak temen-temen juga -termasuk aku- yang sering mengolok-olok dia karena sikap dia yang nggak seharusnya. Tapi kamu bilang kamu cuma mau berbuat baik ke dia. Mungkin juga ke semua orang. Semoga akan semakin banyak orang yang merelakan dirinya untuk membahagiakan kamu, Cha. Tuhan pasti membalas setiap perbuatan manusia :)

Cha, kamu tau gak? Orang-orang di sekitar kamu itu butuh perhatian kamu. Mereka pengen kamu dengerin cerita mereka. Mereka pengen kamu kasih nasihat ke mereka. Jangan cuma tablet kamu doang yang diperhatiin terus. Sometimes, all you have to do is give your own time to build their own "world". Mereka juga pengen kamu hadir ke dalam dunia mereka.

Cha, aku inget kamu pengen banget beliin pulau pribadi untuk Mama kamu. Supaya apa? Supaya Mamamu bisa lebih sering istirahat kan? Katanya Mamamu sibuk banget. Makanya kamu pengen Mama sejenak melepas penat di pulau yang kamu beliin untuk beliau.Cha, katanya sih nggak ada sesuatu yang nggak mungkin. Apalagi cuma keinginan kamu yang itu. Pasti kebeli kok pulau yang kamu pengen kasih ke Mama.

Cha, makasih udah mau mampir ke blog aku sponsored by Espresso terpelit. Coba jelasin Espresso terpelit itu maksudnya apa? Aku penasaran Cha kenapa kamu sering bikin istilah-istilah aneh. Espresso terpelit, DBL banget ini mah, sesepedaan, dll. Tapi gapapa. Lucu. Bisa bikin orang-orang di sekitarmu ketawa terus ikut-ikutan pake istilah-istilah kamu deh. Haha.

Icha yang entik, aku sudahi suratku di sini. Jadi diri kamu sendiri ya. Tapi jangan lupain kewajiban kamu terhadap orang lain :)

Salam,
Aku yang inisial namanya cocok sekali disandingkan dengan "my everything"
Tangerang, 15 Februari 2014, 23:07
#30HariMenulisSuratCinta