Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 September 2015

Ada

Ada yang dipaksa saat aku menulis ini. Baik itu jemari maupun kemampuan menyusun kalimat demi kalimat dan tanda baca yang tepat. Apabila aku salah menempatkan koma atau tanda tanya atau lupa menempatkan tanda titik bahkanspasi, maafkan saja ya. Tak ada yang lebih menyebalkan ketika inginmu adalah beristirahat tapi kamu tak mampu, atau inginmu muntah kata tapi tak keluar juga.

Ada yang ditahan saat aku menulis ini. Marah yang bersebab, tapi sudah hilang lagi sebelum kamu sempat sadari. Ini namanya marah sendiri. Maka jangan pernah kamu sepelekan perempuan yang tiba-tiba diam padahal sebelumnya dia bertingkah bak tukang obat yang menawarkan penyembuh-penyembuh bagi sedihmu atau penguat-penguat bagi senangmu.

Ada yang berisik di kepalaku. Berbincang tentang kamu. Melulu.

16.51
25 Sept 2015

Senin, 27 Oktober 2014

Seorang Anak yang Ingin Memimpin Negara



Pagi ini aku tak sengaja membaca koran yang biasa diantar oleh Sukardi
Amat berbeda, halaman depannya dipenuhi satu gambar anak kecil berpakaian Superman
Aku baca dan mulutku menganga
Secepat kilat berteriak pada ibu, pada ayah, pada tetangga sebelah
Anak ini ingin memimpin negara! Ceritaku, singkat
Mereka melihat dan mulut mereka menganga lebih lebar
Tak ingin lama-lama, segera kubaca berita tersebut
Seorang anak usia empat tahun ingin memimpin
negara yang ia bangun di kolong kasurnya
Ditemani botol susu, mobil-mobilan dan kaus kaki biru
sebagai menteri-menterinya, ia berharap rakyat yang 
berupa debu bisa hidup sejahtera tanpa belenggu
Ia pandai berorasi meskipun baru mengenal angka satu
Dengan selimut bergambar lembu, ia mampu
mewujudkan kesejahteraan bagi para debu
Selesai
Mulutku menganga, lebih lama
Lantas berdoa pada Tuhan agar orang dewasa seperti aku,
ibuku, ayahku dan tetangga sebelahku dapat sejenak menyederhanakan harapan
Seperti anak kecil dalam berita
Betapa kehangatan ternyata bisa memimpin negara

27102014

Sabtu, 30 Agustus 2014

Kau Ini, Tapi Aku Itu

Kau nyala api di perapian
Tapi bukan aku yang kau hangatkan

Kau bunyi alarm di pagi hari
Tapi bukan aku yang kau bangunkan

Kau pembatas buku cerita penuh makna
Tapi bukan aku yang membacanya

Kau ritme indah dari mulut gitar
Tapi sial, aku tak mahir memainkannya

Kau langit hitam dengan bulan yang menggoda saat tengah malam
Tapi aku selalu tidur lebih cepat

Kau sebatang rokok yang kian hari kian menghitamkan paru-paru
Tapi bukan aku yang mematikan apinya

Kau mencintai dirimu sendiri
Tapi aku juga

30 Agustus 2014