Senin, 16 April 2012

Final Test and We're Gonna Missing Us

Saatnya tiba. Beberapa jam lagi gue dan temen-temen seperjuangan akan menghadapi ujian yang merupakan tes penentuan selama sekolah tiga tahun. Lulus nggak ya... Dari Jum'at sampe Minggu kemaren udah dikasih hari tenang. Syukurlah sejak beberapa bulan sebelum UN pun gue tetep tenang. Bukan, bukan karena gue siap. Tapi ya... Yaudahlahya. Tegang gak akan bikin gue bisa ngelewatin ujian dengan baik. Keep slow aje sih.

Hari-hari terakhir belajar di kelas berasa... Ah lo yang bakal UN kayak gue gini pasti ngerasain juga lah. Jadi pengennya belajar terus. Padahal itu udah gak diperluin lagi. Secara ujian udah di depan mata. Telat banget kalo baru mau belajar sekarang :") Setelah lulus nanti pasti pengennya balik ke SMA. Padahal sekarang gue pengennya cepet-cepet keluar. Sekarang bosen, nanti kangen :'3

Ini ada beberapa momen temen-temen yang udah dua tahun sekelas, di IPS 3.

Diskusi

<3


She's rock


Berantakan



Struktur kelas


Bareng Pak Fathur, Guru Matematika dari MAN MALANG

Ini cewek-ceweknya saat menjelang acara motivasi

Tumpahkan ke-alay-an mu!!!

Miss Aam, English

"Aku takut sama kakak yang di sebelah kanan ku"



 



"Jangan ganggu kita, kakak"


Saingan SM*SH

Nonton film



Futsal





Ini yang paling lawak


Semoga yang ini longlast sampe matik!!!



Pinky boy. Panggil dia Toni
 We are that freaky. It makes us stronger ♥♥♥♥♥♥

Tiga tahun kita udah usaha sungguh-sungguh, sekarang saatnya berhasil. Man jadda wajada!

Selasa, 03 April 2012

Hujan dan Percakapan Kala itu

Tik tik tik.. Pelan tapi pasti. Rintik hujan semakin banyak jatuh ke bumi. Semakin lama, semakin menderas. Bau tanah mulai merebak. Menusuk hidung yang mampet karena flu. Ah kurang nikmat. Mungkin hujan harus datang lain waktu ketika penyakit ini sudah terangkat. Agar bau tanahnya bebas berlarian di dalam hidungku.

Pulang sekolah. Aku berteduh di sebuah halte. Musim hujan memang sedikit menjadi masalah jika bepergian dengan motor tanpa membawa jas hujan. Halte semakin ramai dipenuhi orang yang bernasib sama denganku. Mulai dari wanita yang kutaksir dia adalah SPG salah satu mall di dekat halte. Beberapa orang yang mungkin baru pulang dari kantor, beberapa anak sekolah, serta seorang pengemis tua yang memakai tongkat dengan baju lusuhnya, terlihat kedinginan. Hujan selalu mengingatkanku akan sesuatu. Mengingatkan akan kamu. Pikiranku melayang sejauh mungkin. Mencari tempat yang lebih luas dari halte yang sesak ini. Hanya untuk menyelami arti hujan kali ini. Karena aku percaya, Tuhan punya maksud berbeda pada setiap apa-apa yang telah Ia turunkan.

Tiba-tiba aku teringat percakapan bersama ibu, pada suatu malam di ruang tamu, pun saat hujan juga.

“Bu, kenapa Tuhan ciptakan cinta di dunia?”

“Jika tidak ada cinta, tak akan ada segumpal daging yang tinggal di rahimku kurang lebih 9 bulan 10 hari. Yang kemudian lahir sebagai seorang wanita yang mempunyai mata seterang cahaya.” Kata ibu sambil tersenyum menatapku.

“Ah ibu bisa saja. Mataku adalah hal paling biasa yang pernah aku lihat. Di cermin tentunya.” Aku tertawa sambil mengatakan itu.

“Tapi bu, kenapa pula Tuhan ciptakan sakit diantara cinta yang terjadi?”

“Nak, di bumi ini, tak mungkin hujan turun terus menerus. Atau kemarau melanda tak ada habisnya. Kalau begitu, manusia bisa mati dengan mudah. Tuhan ciptakan keseimbangan diantara keduanya. Agar manusia bisa mengambil pelajaran dari setiap yang Tuhan berikan. Sama halnya dengan cinta. Mencintai terus menerus akan membuat dirimu kalah dan mati perlahan. Oleh karena itu, terkadang kamu harus berhenti mencintai. Yang bagi sebagian orang diartikan sebagai menyakiti.”

“Bagaimana jika... mencintai terlalu dalam?”

“Begini, seharusnya kamu tahu bahwa hal yang berlebihan tentulah tidak baik. Termasuk dalam mencintai. Dunia ini fana. Pun cinta di dalamnya. Jika yang kamu cintai itu hilang, apakah mudah mengobati sakit hati dari cinta yang teramat dalam? Cinta yang baik bukanlah mencintai sepenuh hati, Sayang, tapi mencintai dengan sederhana. Sesederhana ketika ibu membuatkan kopi untuk ayah. Atau ketika kakek-nenek tertawa di serambi rumah karena mengingat kisah mereka semasa muda. Gigi mereka ompong dan tulang mereka rapuh. Tapi mereka saling mencintai.” Ibu mengakhiri kalimatnya yang panjang itu sambil mengelus rambutku. Lembut sekali.

Pikiranku kembali ke halte dan orang-orang yang berteduh di dalamnya.  Sudah sekitar satu jam dan hujan belum menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti. Jalanan mulai digenangi air keruh kira-kira sebatas mata kaki. Cipratan dari kendaraan yang lewat semakin tinggi mengenai kami yang sudah berusaha menghindar.

Percakapan bersama ibu yang sempat memutar di otakku kembali aku renungkan. Mungkin memang seharusnya aku tidak mencintai sepenuh hati. Tapi mencintai dengan sederhana, apa adanya. Semampu yang aku bisa. Atau bahkan aku harus berhenti mencintai sejenak. Untuk menciptakan keseimbangan yang sempat tak terpikirkan.

Senin, 12 Maret 2012

Perang Akan Dimulai


Salam cinta untuk kalian semua!

Gak ada kata terlalu pagi untuk posting blog :)  btw, apa kabar? Semoga baik lah ya. Postingan kali ini presented khusus untuk temen-temen seperjuangan gue dimana pun kalian berada :’)

Berat emang. Kita semua ngalamin hal yang sama. Dituntut untuk melahap materi 3 tahun itu kayak harus nopang batu yang besarnya berton-ton kali lipat dari rindu yang kita punya. Iya rindu. Kenapa rindu? Gak tau -_- Dimulai dari bimbingan belajar intensif di sekolah maupun tempat belajarnya lainnya, tryout-tryout, ujian sekolah, ujian hidup, dll. Kita ngeluh kesana kemari gak jelas juntrungannya. Marah-marah tanpa sebab. Nangis tiba-tiba. Atau jatuh sakit. Well, kita pasti sadar itu semua gak akan ngerubah keadaan. Tapi kenapa masih keukeuh dengan sikap-sikap kayak gitu? Mind your own answer ;)

Hari ini, tepatnya tanggal 12 Maret 2012, pertempuran sesungguhnya baru dimulai. Tryout dan BBI yang kemaren itu, kalo dalam istilah wejangan makan malam, cuma sebagai appetizer, yang di kamus artinya  perangsang selera. Ngeri ya. Jangan diartiin murni sebagai perangsang -_- improve  dikitlah biar jadi cakep. Dimulai dari ujian sekolah (40% untuk pertimbangan kelulusan), lanjut dengan UAMBN (khusus sekolah madrasah macem gue), baru selanjutnya UN (60% pertimbangan kelulusan) daaaaaaaaan SNMPTN!!!! >:o yaa meskipun mungkin ada beberapa dari kita yang berkesempatan untuk ikut seleksi SNMPTN undangan, tapi siapa yang bisa ngejamin sih keberuntungan kita ada di jalur itu?

Kalo gue pribadi, semakin deket ujian (apapun jenisnya) semakin gue seneng ngadepinnya. Nggak, bukannya sombong dan pede yang berlebihan lantaran yakin dengan kemampuan gue. Tapi sikap kayak gitu merupakan bentuk timbal balik atas apa yang gue rasain. Gue ngerasa... bosen._.  Menurut gue itu wajar. Kelewat wajar malah. Istilahnya gini, seenggaksukanya elo terhadap suatu hal, kalo itu merupakan sebuah prosedur yang harus dijalani, apa yang paling bisa elo lakuin selain ngejalanin rintangan itu sesuai prosedur yang ada? Yaudah gitu loh. Jalanin aja apa yang ada. Bukan “biar aja ngalir kayak air”. Kalo ada orang di sekitar lo yang bilang “gue sih ngebiarin hidup ini ngalir kayak air”, berarti logikanya nggak jalan. Air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Semakin rendah tempat itu, semakin kenceng alirannya. Mau hidup lo jatuh terus? Karena semuanya diawali dari niat, maka diawali juga dari mindset.

Seperti layaknya orang perang, dukungan sekecil apapun sangat berarti untuk pahlawan-pahlawan pejuang. Anggap aja kita adalah pejuang,  “cemungudh eaa qaqah” adalah stimulan dan pengawas ujian adalah musuh yang menghadang.

Selamat berperang! Semoga lulus sampai tujuan ({})

NB: sengaja gue memposting ini bertepatan dengan hari pertama ujian sekolah, sebagai pertanda kalo semisal gak ada postingan-postingan selanjutnya setelah ini, berarti gue gugur di medan peperangan :’)

Rabu, 22 Februari 2012

Mati yang Memisahkan

Suatu hari
Jemariku menari di atas lembar kenangan kita
Tidak, tidak ada yang salah dengan semuanya
Ia hanya ingin memperbaiki yang rumpang
Dan melengkapi bagian dimana kau lupa pulang

Kenangan ini memang milik kita
Seperti yang kau tau
Terkadang kau menghilang tanpa pamit
Membiarkan jemariku sendiri merangkai kata
Sampai aku sadar kau kembali ketika keadaan sudah teramat larut

Lembar demi lembar tercetak tanpa cacat
Kau merasa ada bagian yang carut marut
Kau bilang, ceritaku terlalu pahit
Ku balas, dirimu yang membuatnya menjadi sempit

Tahun demi tahun berganti
Pun buku kenangan kita tak lelah menampung isi hati
Sampai pada saatnya Tuhan menyuruh kita berhenti
KataNya, cukup sampai disini
Kita dipisahkan oleh mati

22022012
10.14

Senin, 30 Januari 2012

Ooooh Hujan

Teruntuk hujan yang menderas

Sore ini agak dingin ya. Mungkin karna kau telah turun sejak pagi hari. Aku menyukai dirimu, terlepas dari apakah kau menyebabkan bencana atau tidak. Aku menyukai dirimu seperti layaknya daun yang gugur. Ikhlas untuk menerimanya.

Kadang aku terbangun ketika kau turun tengah malam menjelang pagi buta. Dimana orang-orang sedang dibuai oleh indahnya mimpi mereka. Atau mungkin ada segelintir yang terpaku memikirkan rindunya. Semisal kau datang bersama angin, aku takut kau membawa serta badai di belakangmu. Aku eratkan pelukan pada guling. Setidaknya itu membantu untuk sedikit tenang. Kemudian perlahan kau mereda. Sampai pada akhirnya banyak embun terduduk manis di atas daun-daun.

Mungkin dalam lubuk hatimu, ada kebosanan yang berarti. Air, air dan air. Begitulah dirimu. Tapi tanpa kau sadar, Tuhan menciptakanmu bukan hanya untuk mengairi bumi. Kau membuat manusia-manusia sadar bahwa ulah mereka terhadap lingkungan tak lagi bersahabat ketika kau berubah menjadi air bah. Menggenangi semua yang ada. Tuhan ingin manusia sadar bahwa tak seharusnya mereka menghancurkan apa-apa yang dipunyai-Nya. Tapi memang dasarnya manusia, air bah pun tak juga mampu membuat mereka sadar. Mereka merusak lagi. Maafkan ulah kami semua, Tuhan.

Lupakan soal manusia pengrusak. Kembali ke topik antara kita. Kau tau? terkadang aku sengaja tak membawa payung ketika bepergian. Padahal dirimu sedang sering-seringnya turun. Aku tak ingin kenangan-kenangan masa lalu menjadi kering. Karena yang bisa membasahinya hanya dirimu. Ketika cuma gerimismu yang datang, aku buka lembaran memoriku perlahan. Agar tak ada satu lembar pun yang terlewat oleh dirimu. Seiring kau menderas, aku biarkan mereka terbuka tak beraturan. Bergerak sesuka mereka. Tertutup atau kembali terbuka. Saat kau berhenti, aku kelum rapi album kenangan itu. Sampai nanti kau datang lagi.

Sekian saja aku sudahi surat ini.

Salam,
Bukan ojek payung

Minggu, 29 Januari 2012

Bukan Lelaki

Teruntuk para lelaki yang pernah menyakiti,

Apa kabar? Bagaimana kehidupan kalian? Masihkah penuh dengan wanita-wanita yang tersakiti? Atau hidup bersama karma yang sudah lama menanti? Aku harap tidak keduanya. Karena aku tau kalian tak melulu harus merasakan sakit itu sekarang. Tapi pasti. Entah kapan.

Seorang tokoh pernah mengungkapkan bahwa, hanya ada dua tipe laki-laki di dunia, brengsek dan homo. Kalian termasuk yang mana? Aku beri keleluasaan untuk memilih. Ah tapi tunggu dulu! Jangan lupakan konsekuensi dari setiap pilihan.

Aku tulis surat ini bukan untuk memojokkan kalian. Mungkin teramat singkat. Dan samar-samar. Tapi cukuplah untuk mengeluarkan isi kepala yang sudah terpendam.

Semoga Tuhan tetap melindungi dan memberi wanita yang baik pada kalian.

Salam,
Bukan lelaki

Selasa, 24 Januari 2012

Malam yang Lagi Selimutan

Kepada malam yang menyelimuti rindu

Selamat, Malam! Aku pikir kau adalah salah satu yang beruntung karena mendapat surat dariku. Apa kabar? Aku harap baik. Padahal Tuhan masih mempertemukan kita setiap hari. Tapi pertanyaan itu seakan luput dari ingatan. Kau terlalu sesak. Sampai-sampai baik atau tidaknya dirimu saja aku tak peduli. Ah tidak! Bukannya aku tidak peduli. Aku sangat sangat peduli padamu.

Omong-omong, kenapa hanya ada sedikit bintang yang mengunjungimu? Kau terasa lengkap bersama teman sejatimu itu. Tuhan memang Maha Segalanya. Dia memasangkan ke-hitampekat-anmu dengan kilau bintang yang mampu menampung rindu.

Aha! Aku ingat sesuatu. Yang telah sejak lama ku titipkan padamu. Masih adakah? Bagaimana rupanya? Semakin banyak? Atau malah terkikis sedikit demi sedikit? Aku percaya padamu bahwa kau akan menjaganya sampai waktu tiba. Kapan? Entah. Kau tak berhak tanyakan itu. Karena sejatinya aku pun tak tau mau diapakan semua rindu-rinduku. Mungkin kau bertanya kenapa rindu itu bisa muncul padahal aku sendiri tidak tau apa-apa perihal keberadaannya. Mau tau? Pernah ada yang membeku. Ya, rindu-rinduku sempat mengotak-ngotakkan dirinya sendiri pada tempat dimana kau bisa temukan kedamaian, atau bahkan kekacauan sekalipun. Dimana terkadang kau tak sengaja tinggalkan cintamu dan tak mampu mengambilnya lagi. Dimana kau baru tersadar bahwa egoismu teramat besar.

Sudahlah. Aku yakin nantinya kau akan mengerti mengapa aku selalu titipkan rinduku padamu, bukannya pada orang lain. Mengapa pula aku ingin kau menjaganya agar tetap hangat. Karena di luar sana, terlalu banyak dingin yang menyusup ke hati setiap orang. setidaknya kau bisa hangatkan mereka dengan apa yang kau punya. Tak hanya rinduku. Aku yakin kau telah menyimpan lebih banyak rindu.

Sekian dariku. Kenapa malam selalu hitam? karena rindu tak selamanya terasa ringan. Ia hadir agar rindu itu sedikit tertahan. Blah!

Salam, Malam!
Aku~

Main ke Bogor



Dear Bogor,

Bisa dibilang, ini kali pertama aku mengunjungimu secara sengaja. aku tulis surat ini ketika perjalanan pulang. Tepat hari Minggu, 22/01 pukul 19.28 waktu setempat. See? Lampu kendaraan begitu indah mewarnaimu. Lampu-lampu dari warung makan pun turut memeriahkanmu. Orang-orang Jakarta mencuri udara segar disini. Karena seperti yang mungkin kamu tau, udara segar di Jakarta semacam barang langka. Dan untungnya kamu hadir untuk kami. Manusia serakah yang selalu inigin bernapas.

Ingin rasanya mengunjungimu lebih sering lagi. Well, sekedar berkeliling rasanya sudah bisa dibilang rekreasi. Kapan Jakarta bisa seperti dirimu? Sepertinya mustahil. Tuhan telah menyiapkan tempat dimana manusia harus tegang, atau rileks. Kamu, menjadi yang dapat menenangkan.

Surat ini, aku persembahkan untuk orang-orang yang menjadi bagian penting dari dirimu. Yang ramah dan masih memperbolehkan kami, orang-orang yang serakah akan udara segar, mengunjungimu sesuka hati. Semoga Tuhan senantiasa menjadikanmu tetap begini. Atau beruntungnya jika menjadi lebih baik lagi.

Salam hangat,
Aku yang menyukaimu

Senin, 23 Januari 2012

Semut

Kepada semut-semut yang tenggelam di air teh,

Mungkin kalian tidak akan membaca surat ini. Tapi aku harap ratu kalian yang akan membacanya. Suatu ketika aku lihat segerombolan dari kalian berjalan berbondong-bondong ke arah gelas tehku. Aku tau gula adalah santapan terenak bagi kalian. Oleh karenanya satu persatu dari kalian mulai memanjati gelasku, masuk ke sisi dalamnya dan perlahan turun mendekati air teh. Pertama-tama, kalian celupkan jari ke dalam air, lalu dirasakanlah oleh kalian. Enak kah? Pasti!

Lama-kelamaan kalian semakin terlena dengan kemanisan yang dijamukan oleh air tehku. Salah satu dari kalian makin turun ke bawah sehinggan setengah badannya masuk ke dalam air. Makin masuk, masuk, dan...... BYUR! Dia tenggelam! Beberapa dari kalian pun menyusulnya. Aku pikir kalian senang. Tapi ternyata kalian tak bisa berenang dan hanya berkecipak lemah di permukaan air tehku. Ngambang. Selebihnya kalian tak lagi bergerak. Kuputuskan kalian sudah tak bernyawa.

Yang ingin aku sampaikan melalui surat ini adalah mengapa kalian tidak belajar dari satu semut yang tenggelam lebih dulu? Atau memang begitu takdir semua semut? Mati karna tidak bisa belajar dari kesalahan kawannya? Apa ratu semut tak mengajarkan bagaimana cara mencicipi air teh dan kalian tetap hidup? Malangnya......

Jika memang air teh adalah tempat terindah bagi kalian, belajar berenang dong! Semoga Tuhan menempatkan kalian di sisi termanis-Nya.

Salam,
Aku si pembuat teh manis